Rabu, Februari 12, 2020

Simping Purwakarta

Simping Purwakarta
Purwakarta.in | Simping merupakan Penganan Raja dalam Sejarah Purwakarta, Penganan yang menurut para tetua sudah ada sejak zaman kerajaan Sunda dahulu, menurut hikayat merupakan kesukaan para bangsawan. Bapak H Engkun, yang diketahui sebagai keturunan bangsawan Purwakarta, mengkomersilkan simping pertama kali di daerah kaum.

Berawal dari wilayah Kaum yang letaknya tidak jauh dari kantor Bupati Purwakarta, tempat produksi simping sekarang terdapat pula di daerah Pasawahan hingga Wanayasa. Bahkan sekarang terdapat hampir 300 pengrajin simping yang masih berproduksi hingga saat ini. 


Tidak sulit mencari produsen simping. Jika sedang beruntung tidak hanya membeli produk, kita bahkan dapat melihat proses produksinya yang cukup unik.

Yang menarik, tak banyak warga Purwakarta yang mengetahui asal usul nama simping ini. Namun menurut beberapa versi dari para penjual simping, nama simping berasal dari kata sumping (datang).

Setahu saya penganan ini dulunya sering disajikan kepada para tetamu yang datang, hingga dinamakan kue sumping. Namun dalam perkembangannya kata sumping sering dilafalkan menjadi simping, tutur Penanggungjawab Toko Simping Teh Ina, Ahmad Zakaria yang mengaku mengetahui cerita tersebut dari orang tuanya.


Simping sendiri merupakan cemilan berbentuk bulat tipis seperti lembaran, mirip dengan lembaran yang dipakai untuk menjepit gulali (rambut-rambutan). Simping merupakan kue kering dengan tekstur gurih dan renyah. Rasa renyah simping bergantung pada ketebalan serta komposisi bahan.


Semula simping hanya terdiri dari satu rasa, yaitu kencur, saat ini bermetamorfosis menjadi berbagai ukuran dan rasa. Untuk simping asin ada rasa keju, gurih, udang dan pedas. Untuk simping manis, mulai dari rasa coklat, strawbery, pandan hingga durian dan susu, juga mulai dapat ditemui.


Adapun proses pembuatan simping dapat dikatakan cukup mudah, dan bahan yang digunakan juga mudah diperoleh. Bahan utama pembuatan simping terdiri dari campuran tepung terigu, tapioka, santan kemudian ditambah berbagai macam rasa. 


Selanjutnya adonan yang sudah jadi dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk bulat tipis dan dimatangkan dengan cara dipanggang menggunakan alat khusus.

Sehingga jika mengkonsumsi dalam jumlah besar, penganan ini tidak akan membuat kolesterol naik, karena proses pembuatannya tidak menggunakan minyak sehingga aman dikonsumsi siapa pun.


Harga simping per bungkus dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau yaitu dengan harga Rp.5.000 - 11.000 saja. Sebagai pelengkap, penganan simping itu bisa dibawa pulang dengan menggunakan dus dengan menambah Rp.10.000 atau jika menggunakan travel bag hanya menambah Rp.5.000 yang didesain khusus oleh Pemkab Purwakarta.


Saat ini simping tidak hanya di produksi di Purwakarta, tetapi juga di daerah lain seperti Karawang dan tidak kalah rasanya dengan simping hasil produksi Purwakarta.


Namun di tengah nama simping yang kini banyak dikenal di berbagai daerah sebagai makanan khas Purwakarta. Justru usaha simping semakin sulit untuk dipertahankan. Itu terjadi karena mahalnya harga bahan baku seperti tepung tapioka yang semula hanya Rp.70.000 per lima puluh kilogram, kini sudah di atas Rp.400.000 belum lagi bahan lain seperti rempah dan buah-buahan karena perasa dalam simping menggunakan bahan alami tanpa perasa buatan.


Sumber: Purwakarta.go.id

avatar
Redaksi Purwakarta.in Online
Welcome to Purwakarta.in
Chat ke Redaksi